Nusa Tenggara Timur Seni dan Budaya

Fakta-Fakta Tentang Mbaru Niang, Rumah Adat Wae Rebo

Pinterest LinkedIn Tumblr

Salah satu destinasi wisata budaya di NTT yang menjadi magnet para traveler dari berbagai belahan dunia adalah Desa Wae Rebo. Desa yang terletak di ketinggian 1.200 meter ini masih terjaga keaslian adat serta keasrian alamnya. Butuh pendakian selama 3 hingga 4 jam untuk menuju ke desa yang dijuluki Desa di Atas Awan ini.

Baca artikel terkait Berpetualang Menuju Wae Rebo, Desa di Atas Awan

Sesampainya di Desa Wae Rebo, kita akan langsung melihat rumah-rumah adat berbentuk kerucut yang berlatarkan pegunungan hijau. Di desa adat ini hanya ada 7 buah rumah adat yang dinamakan mbaru niang. “Mbaru” berarti rumah, dan “Niang”  berarti tinggi dan bulat. Dari penampakannya kita akan langsung melihat bentuk kerucut yang sangat besar, sesuai dengan namanya. Ada banyak hal menarik tentang rumah ini yang jarang diketahui banyak orang. Beberapa di antaranya terangkum dalam ulasan berikut ini.

95% Bangunannya Menggunakan Ikatan Rotan

Wae Rebo
Image credit: cameroonjb (flickr.com)

Mbaru niang menggunakan material alami seperti kayu, ijuk, alang-alang, dan rotan. Rangka dalam bangunannya terbuat dari kayu, sementara rangka luarnya terbuat dari bambu. Seluruh bagian luar bangunan mbaru niang dilapisi dengan penutup atap yang terbuat dari ijuk yang diikatkan kepada rangka.

Untuk menyambungkan antar bagian materialnya, sebagian besar menggunakan ikatan rotan. Hanya bagian lantai saja yang menggunakan pasak sebagai penguat dengan sambungan balok. Metode ikatan pada rumah mbaru niang merupakan teknologi yang lebih tua daripada teknologi paku

Satu Rumah Menampung 6 Hingga 8 Keluarga

Mbaru Niang
Image credit: You Shanghao (flickr.com)

Meski hanya berjumlah 7 rumah, namun tiap mbaru niang memiliki ukuran yang besar. Tingginya mencapai 11 meter. Dengan ukuran tersebut, rumah ini dapat menampung 6 hingga 8 keluarga. Para pelancong yang menginap pun masih tetap akan mendapatkan ruang karena kapasitas rumah ini bisa mencapai 30 orang.

Mbaru niang memiliki 4 lantai ke atas. Di lantai paling dasar, ruangan dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama adalah bagian ruangan publik yang disebut dengan “lutur” untuk menerima tamu dan segala aktivitasnya. Kemudian bagian kedua adalah ruangan privat yang disebut dengan “nolang”. Sisi nolang merupakan 8 bagian kamar untuk para keluarga. Kamar-kamar di dalam rumah ini diurutkan berdasarkan urutan waktu kelahiran.

Material Dikuatkan dengan Tungku Api

Mbaru Niang
Image credit: You Shanghao (flickr.com)

Di bagian tengah-tengah lantai dasar mbaru niang, terdapat tungku api. Bagian tengah ini digunakan sebagai dapur, dan tungku digunakan untuk memasak. Selain itu, tungku juga dipakai untuk mengasapi material bangunan seperti kayu, ijuk, dan alang-alang. Proses pengasapan ini berguna agar material dapat digunakan lebih tahan lama.

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.