Seni Seni dan Budaya

Wot Batu, Ruang Perjalanan Spiritualitas Sunaryo

Pinterest LinkedIn Tumblr

Ingin menikmati karya seni dengan panorama dan sejuknya udara Bandung? Wot Batu adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi. Berada di Jalan Bukit Pakar Timur No. 100, tempat ini didirikan oleh perupa ternama asal Bandung, Sunaryo. Letak Wot Batu pun tidak jauh dari galeri miliknya, Selasar Sunaryo. Untuk masuk ke dalam Wot Batu, kita perlu membeli tiket seharga Rp 50.000 untuk orang dewasa, Rp 30.000 untuk pelajar, seniman, dan anak di bawah umur 5 tahun.

Wot Batu
Image credit: wotbatu.id

Memasuki pintu depan Wot Batu, kita akan dipandu oleh seorang guide yang akan menjelaskan isi dan makna dari karya-karya di dalamnya. Sebuah lorong berupa dua dinding yang saling berhadapan, mengantar kita masuk ke dalam sebuah taman seluas 2000 meter persegi yang berisi beragam instalasi berupa komposisi batu karya Sunaryo. Dalam karyanya ini, Sunaryo tidak sendiri, penataan Wot Batu dirancang secara detail dengan melibatkan ahli dari berbagai bidang seperti arsitektur, geologi, dan sejarah.

Batu dan Spiritualitas

Komposisi batu yang dihadirkan di sini merupakan hasil pendalaman Sunaryo tentang spiritualitas. Setiap instalasi batu memiliki maknanya masing-masing. Misalnya pada “Batu Gerbang”, batu yang diletakkan di bagian pintu masuk ini dimaknai sebagai batu transisi yang memisahkan lingkungan di luar dan di dalam Wot Batu. Di bagian tengah taman, terdapat batu “Antara Bumi dan Langit” yang merepresentasikan dualisme yang ada di alam semesta ini.

Baca artikel terkait Jalan-Jalan ke 3 Galeri Seni di Bandung Utara

Salah satu yang ikonik di Wot Batu adalah “Batu Lawang”, komposisi yang dibuat seperti pintu ini dimaknai sebagai jalan antara kehidupan dan kematian. Di bagian atasnya terdapat catatan dan sidik jari Sunaryo. Tak jauh dari “Batu Lawang”, terdapat “Batu Air” yang berdiri di ujung kolam. Komposisi batu ini melebur dengan alam di sekitarnya.

Wot Batu
Image credit: wotbatu.id

Masih banyak komposisi batu lainnya yang terdapat di tempat ini. Di akhir perjalanan, kita akan menemukan “Batu Waktu”. Di dalam batu ini terdapat sebuah gear yang terus bergerak tanpa henti seperti waktu. Pada dinding bagian belakangnya terdapat tulisan “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke”. Kalimat tersebut diambil dari Naskah Amanat Galunggung yang berarti “Ada hidup yang lalu, ada hidup yang sekarang. Tak ada hidup yang lalu, tak akan ada hidup yang sekarang.”

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.