Kalimantan Seni dan Budaya

Pawai Tatung, Atraksi Ekstrim Dari Singkawang Yang Jadi Buruan Wisatawan

Pinterest LinkedIn Tumblr

Singkawang dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng. Tapi bukan itu yang membuatnya terkenal hingga ke seluruh dunia. Tradisi pawai Tatung yang diadakan tiap tahun ini banyak menarik minat wisatawan domestik dan juga wisatawan asing untuk datang ke Singkawang pada perayaan Cap Go Meh.

Daya tarik utama dalam perayaan imlek khas Singkawang ini adalah pawai yang menunjukkan atraksi ekstrem. Para peserta pawai ini berkeliling kota sambil memamerkan tubuh mereka yang dipenuhi benda-benda yang menusuk tubuh mereka.

jalan jalan
travel.tempo.co

Pada hari raya imlek 2020, pawai Cap Go Meh juga telah dilaksanakan pada 11 Januari lalu dengan menampilkan 800 Tatung dari Singkawang dan daerah-daerah sekitarnya. Bahkan 11 Tatung dari Malaysia juga turut serta dalam perayaan Imlek tersebut.

Sekilas tentang pawai Tatung

Pawai Tatung sudah dilaksanakan di Singkawang sejak 250 tahun yang lalu. Kata Tatung sendiri merujuk pada orang yang menjadi media yang dirasuki roh leluhur yang mereka percaya dapat memberikan kekuatan.

Seorang budayawan Kalimantan Barat, F.X.Asali mengungkapkan bahwa kata Tatung berasal dari bahasa Hakka. “Ta” memiliki arti “pukul atau tepuk”, sedangkan “tung” dapat diartikan sebagai “orang” (Thungkie).

Saat pawai berlangsung, para Tatung ini seperti berada dalam kondisi “trance”, sehingga mereka dapat melakukan sesuatu di luar nalar. Mereka dapat berjalan di atas pedang yang tajam tanpa terluka. Bahkan Tatung menusuk beberapa bagian tubuhnya tanpa merasa kesakitan sedikit pun.

hari raya imlek
infopublik.id

Aksi yang dilakukan para Tatung tersebut dianggap sebagai tindakan penebusan dosa atas kesalahan yang dilakukan manusia. Tentu saja hal ini sangat dipercaya oleh para pengikut ajaran ini. Selain aksi Tatung, pawai hari raya imlek ini juga berkeliling sambil mengarak sebuah arca SInbeng yang berada di dalam usungan yang disebut Kio.

Budaya Cap Go Meh khas Singkawang ini dipercaya dibawa oleh orang-orang Tiongkok yang merantau ke Kalimantan Barat. Dalam sebuah buku berjudul “Orang Cina Khek dari Singkawang” disebutkan bahwa para perantau dari Cina ini sebagian besar berasal dari Guangdong dan Fujian, dua provinsi yang berada di Tiongkok.

Tradisi pawai Tatung ini awalnya bermula saat para perantau Cina tersebut mulai terjangkit penyakit yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Kara dokter saat itu tidak bisa mengobati penyakit tersebut, para perantau Tiongkok mulai melakukan ritual tolak bala untuk melenyapkan penyakit yang dianggap berasal dari gangguan roh jahat.

Sejak saat itulah pawai Tatung terus berlanjut hingga saat ini. Bahkan ritual ini menjadi bagian dari tradisi dan budaya lokal yang menambah keragaman budaya Indonesia. Tapi karena aksi para Tatung dalam pawai ini dinilai cukup kejam, tidak semua orang sanggup menyaksikan pawai ini hingga akhir. Apa kamu sanggup menyaksikan kegiatan ini?

BACA JUGA:

Mario
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.