Asal-usul

Mengenal Lebih Dalam Mengenai Ondel-Ondel

Pinterest LinkedIn Tumblr

Tentu kamu sudah tidak asing lagi dengan ondel-ondel. Ikon budaya tradisional Betawi ini memiliki bentuk yang sangat khas. Biasanya boneka ini tampil berpasangan. Yang berkulit merah merupakan ondel-ondel laki-laki, sementara yang berkulit putih adalah perempuan.

Bagian kepala boneka raksasa ini dihiasi dengan mahkota dengan motif flora dan fauna. Pada bagian ini pun terdapat hiasan daun kelapa. Untuk ondel-ondel laki-laki, biasanya menggunakan pakaian sadaria. Sedangkan yang perempuan menggunakan pakaian kebaya encim. Keduanya pun menggunakan sarung jamblang untuk pakaian bagian bawah.

Sebagai sebuah boneka, ukuran ondel-ondel terhitung besar, yakni 2,5 meter. Rangkanya terbuat dari bambu muda yang dilapisi semen tipis atau kertas sebagai kulitnya. Bagian kepalanya terbuat dari kayu atau fiber glass. Dahulu bagian kepala tersebut menggunakan batang pohon kemuning. tujuannya agar aroma harum yang berasal dari batang pohon kemuning dapat mengisi bagian dalamnya.

Pada Awalnya Digunakan Sebagai Perantara Roh Nenek Moyang

Jauh sebelum bentuknya yang kita kenal hari ini, ternyata dulu ondel-ondel memiliki ekspresi wajah yang menyeramkan. Pada sebuah foto koleksi Tropenmuseum yang diambil tahun 1923, boneka raksasa ini memiliki wajah yang mirip dengan barong.

Ondel-Ondel
Image credit: Tropenmuseum

Pada mulanya, ondel-ondel memang era kaitannya dengan kepercayaan tradisional. Tujuan pembuatannya adalah sebagai media perantara roh-roh dunia atas. Roh tersebut merupakan pelindung bagi masyarakat.

Kesenian ini biasanya hadir dalam Teater Betawi. Dahulu orang-orang menyebutknya sebagai barongan. Nama “ondel-ondel” baru meledak ketika dipopulerkan oleh seniman Betawi, Benyamin S, dalam sebuah lagu.

Perkembangan Arak-Arakan

Dalam arak-arakannya, ada musik pengiring yang menemani. Lagu yang biasanya ditembangkan di antaranya “Lenggang Kakung”, “Kicir-Kicir”, dan “Sirih Kuning”. Awalnya penampilan tidak diiringi musik, melainkan gendang pencak silat. Namun seiring berjalannya waktu, beberapa instrumen seperti gambang kromong dan tanjidor, dimainkan sebagai pengiringnya.

Kerajinan Ondel-Ondel
Image credit: Siska Maria Eviline (flickr.com)

Di era modern ini, ondel-ondel ditampilkan sebagai hiburan, bukan ritual tradisi. Beberapa di antaranya pun difungsikan sebagai hiasan dalam sejumlah gedung di ibu kota. Para pengrajin pun mengkreasikannya dalam ukuran yang lebih kecil pada beragam bentuk souvenir.

Baca juga Akulturasi Budaya Tionghoa dan Islam di Masjid Lautze

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.