Asal-usul Destinasi Indonesia Jawa Seni dan Budaya

Liburan Sambil Menjelajahi Sejarah Jakarta di Museum Fatahillah

Pinterest LinkedIn Tumblr

Di balik segala hiruk-pikuknya, Jakarta menyimpan banyak sejarah yang menarik untuk digali. Jauh sebelum gedung-gedung perkantoran berdiri, pembangunan infrastruktur di kota ini sudah terjadi saat Indonesia masih berada dalam masa Hindia Belanda. Salah satu cara untuk mengenali sejarahnya, jalan-jalan ke Kota Tua Jakarta menjadi ide asik sambil mengisi waktu liburan.

Di sana terdapat alun-alun yang selalu ramai dikunjungi masyarakat. Berbagai bangunan cagar budaya masih bertahan hingga saat ini. Ada salah satu bangunan ikonik yang langsung menghadap alun-alun tersebut, yakni Museum Sejarah Jakarta, atau lebih populer dengan nama Museum Fatahillah.

Museum Sejarah Jakarta | Image source: arjunalistened (flickr.com)

Dahulu Digunakan Sebagai Balai Kota

Bangunan dengan gaya neo-klasik ini berdiri sejak tahun 1712. Pada awal dibangunnya, gedung ini merupakan Stadhuis van Batavia, yang berarti balai Kota Batavia. Dengan luas sekitar 1.300 meter persegi, bangunan ini memiliki dua bagian sayap sebagai bangunan utama balai kota. Terdapat pula bangunan samping yang berfungsi sebagai kantor, ruang pengadilan. Selain itu, ada juga kamar-kamar berukuran kecil di ruang bawah tanah yang dahulu dipergunakan sebagai penjara.

Menjelajahi Museum

Museum Fatahillah memamerkan koleksi berupa artefak-artefak asli dan replika yang berhubungan dengan sejarah Kota Jakarta. Untuk mengakses ke dalam museum, kita perlu memasuki pintu gedung menghadap ke arah barat. Harga tiket yang diberlakukan sebesar Rp 5.000 untuk orang dewasa, dan Rp 3.000 untuk mahasiswa, pelajar, dan anak-anak. Pengunjung dapat menitipkan tas dan jaket di tempat penitipan barang, kemudian masuk menuju bagian gedung utama melalui halaman yang berada di tengah-tengah bangunan.

Di lantai bawah, Museum Fatahillah menampilkan koleksi yang mengisahkan sejarah daerah sekitar Jakarta sejak masa Kerajaan Tarumanagara hingga masa kolonial Hindia Belanda. Terdapat replika prasasti dan ruang khusus yang memamerkan peta Ciela, yakni peta kuno yang menggambarkan wilayah pulau jawa.

Museum Sejarah Jakarta | Image source: arjunalistened (flickr.com)

Naik ke lantai dua, kita dapat melihat berbagai koleksi furnitur yang dahulu dipakai di gedung ini, mulai dari kursi, meja, sampai lemari. Bagian lantainya masih menggunakan kayu yang sama seperti dahulu gedung ini dipergunakan sebagai balai kota dan tempat persidangan. Di bagian ruang lain, terdapat sebuat display kamar Diponegoro. Untuk mengakses kamar tersebut, kita harus menggunakan tangga lain yang letaknya di bagian ruang penjara wanita di sayap kiri gedung. Kamar tersebut merupakan tempat Diponegoro menjalani hukuman penahanan selama 26 hati di Stadhuis atas perintah komandan tentara Belanda.

Setelah puas jalan-jalan mengelilingi museum, kita dapat beristirahat di sebuah cafe di bagian belakang bangunan. Ada pola toko souvenir yang menjual berbagai barang yang dapat dijadikan oleh-oleh. Di bagian halaman belakang ini pun difasilitasi toilet dan mushola.

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.