Papua Seni dan Budaya

Ingin Wisata yang Tidak Biasa? Datang ke Boven Digoel, Papua

Pinterest LinkedIn Tumblr

Kabupaten Boven Digoel di Papua menjadi salah satu tempat yang tidak biasa untuk dijadikan destinasi wisata. Pasalnya, tempat ini merupakan bekas penjara besar yang digunakan pada masa Hindia Belanda. Sejumlah tokoh pergerakan nasional seperti Bung Hatta, pernah ditahan di sini.

Tak hanya situs bersejarah yang dapat kita kunjungi di Boven Digoel, ada juga daerah yang dihuni Suku Korowai yang dapat dijadikan destinasi tidak biasa untuk wisata budaya. Ada apa saja di sana? Simak rangkuman berikut ini.

Situs Penjara Boven Digoel

Situs Penjara Boven Digoel
Salah satu sisi sItus penjara Boven Digoel | Image credit: lutfifauziah.wordpress.com

Pada tahun 1926, Dewan Hindia Belanda memituskan untuk membuat penjara pengasingan bagi tahanan Indonesia yang dianggap melawan pemerintahan colonial pada saat itu. Penjara tersebut dibuat di selatan Papua, tepatnya di berantara Boven Digoel.

Boven Digoel
Bekas kamar sel | Image credit: pu.go.id

Setelah puluhan tahun ditinggalkan, kini pemerintah setempat merevitalisasi situs penjara ini menjadi destinasi wisata sejarah. Bangunan penjara yang masih tersisa ditetapkan menjadi cagar budaya yang dilindungi. Kita pun bisa melihat ke dalam ruang-ruang sel dengan penanda nama ruangan yang masih menggunakan Bahasa Belanda.

Seperti yang telah disebutkan di awal, Bung Hatta pun pernah mengalami hukuman pengasingan di sini. Maka dari itu, didirikan Monumen Mohammad Hatta yang berada di seberang Kantor Polres Boven Digoel. Monumen tersebut berupa patung figur sang Wakil Presiden Pertama RI dengan tangan yang menunjuk ke arah tanah.

Rumah Pohon Suku Korowai

Rumah Tinggi
Rumah Tinggi | Image credit: trenggalekbaca.wordpress.com

Selain wisata sejarah, Boven Digoel pun menarik untuk dijadikan destinasi wisata budaya. Di pedalaman Korowai, ada masyarakat adat yang tinggal di rumah-rumah pohon. Rumah tersebut dinamai dengan rumah tinggi.

Masyarakat Korowai masih memegang teguh pola hidup tradisional. Ketinggian rumahnya mencapai 50 meter dari permukaan tanah. Rumah ini dibuat dengan tujuan menghindari binatang buas serta roh jahat. Karena rumah tinggi ini menggunakan bahan alami, maka daya tahan bangunannya hanya sekitar tiga tahun saja.

Suku Korowai di Boven Digoel
Suku Korowai di Boven Digoel | Image credit: mongabay.co.id

Untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, masyarakat Korowai melakukan pemburuan hewan-hewan hutan seperti babi untuk dijadikan santapan. Kini berbagai pihak membantu perkembangan pangan untuk masyarakat Korowai, mulai dari pengenalan budidaya perkebunan, hingga pembangunan sekolah.

Hingga tahun 1970-an, masyarakat Korowai tidak mengenal dunia di luar sukunya. Kemudian pada tahun 1980-an, banyak warga yang pindah ke desa-desan batu di tepi Sungai Becking, dan daerak Korowai-Citak. Ada pun yang membuat desa di daerah tepi Sungai Eilanden dan Khaiflambolup.

Baca juga Mau Lancong ke Mandalika? Simak Dulu Tipsnya!

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.