Informasi

Begpacker Masih Membikin Risi di Beberapa Negara, Ini Penjelasannya

Pinterest LinkedIn Tumblr

Mungkin sebagian dari kamu familiar dengan kata ini kan? Namun jangan sampai kamu menyamakan begpacker dengan backpacker yang selama ini kamu ketahui, ya. Pasalnya kedua kata ini amat sangat berbeda. Backpacker sendiri adalah traveling atau melancong dengan bujet hemat, bisa diartikan juga sebagai pelesir mandiri. Lalu, bagaimana dengan kata begpacker?

Begpacker adalah gabungan dari dua terminologi yaitu beg (mengemis atau meminta) dan packer yang diambil dari bagpacker itu sendiri. Biasanya pelaku begpacker pelesir ke negara bagian Asia, khususnya Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, hingga Indonesia. Cukup menggelikan memang jika kamu mengetahui tren pelesir yang satu ini. Karena pelaku begpacking ini melakukan upaya seperti mengemis, ngamen, bahkan menjual beberapa dokumentasi foto mereka agar mendapat uang.

Bahkan, melansir BBC di tahun 2019, ditemukan 2 pelaku begpacking asal Russia yang sedang “terdampar” di Malaysia. Mereka pun membuat pertunjukan membalikkan bayinya dengan menggenggam kakinya, hingga dilemparkannya bayi tersebut ke udara. Pertunjukan tersebut pun dilakukan kedua WNA tersebut demi mendapatkan uang, walaupun berakhir dengan mendekam di penjara.

Hal seperti ini memang seperti wabah, tidak sedikit oknum yang melakukan ini dengan berbagai macam akal. Setelah adanya pertunjukan membalik-balikan bayi, ada pula pelaku begpacker yang membuat aksi berpelukan demi mendapat “donasi” dari warga lokal. Bukan tanpa sebab, hanya saja anggapan seperti ini terjadi karena banyaknya WNA – khususnya kaum kaukasian – merasa diperlakukan istimewa. Tepatnya saat berkunjung ke destinasi Asia pilihannya. Maka tidak heran jika WNA ini merasa mendapat privilese yang berbeda dari warga lokal. Bahkan bisa dikatakan, tidak sebanding dengan privilese warga lokalnya sendiri.

Saatnya ‘Melek’ Dengan Fenomena Begpacker yang Kian Menjengkelkan

Begpacker, upaya pelesir dengan mengemis
Turis yang mengemis di Seoul, Korea – twitter.com/koryodynasty

Mengutip dari Tirto.id, tidak sedikit orang masih menganut paham stereotype “Bule datang ke negara kita karena banyak uang”. Dengan kata lain, pelancong yang berasal dari negara maju memiliki banyak uang. Sebenarnya dengan mengamini hal ini, kita pun ikut mengamini pandangan tua. Yakni, jika kaum kaukasian dan sejenisnya memiliki derajat yang lebih tinggi dari kaum lainnya. Hal ini pun tidak ada pengecualian bagi orang Asia. Sebenarnya wajar saja cara pandang ini masih sering ditemukan. Karena cara pandang ini warisan yang masih membekas sejak era kolonial Bangsa Barat atas Asia.

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, fenomena begpacking ini merubah cara pandang sebagian besar orang. Walaupun cara pandang tersebut dimanfaatkan sebagian WNA untuk mendapatkan perhatian serta uang dari warga lokal. Tidak sedikit pula warga lokal pun malah merasa jengkel dan ikut buka suara untuk andil dalam menghentikan tren pelesir ini. Karena bisa dikatakan, aksi mengemis dan mengamen demi keuntungan pribadi – seperti untuk traveling terlalu menjengkelkan untuk ditolerir.

Menindaklanjuti Fenomena Begpacking Untuk Mengurangi “Pengemis Asing”

Begpacker, upaya pelesir dengan mengemis
Cara lain begpacker untuk meminta donasi – instagram.com/thejonathan.sim

Sejak pertengahan tahun 2019, Daerah Bali memperketat aturan bagi para WNA yang akan pelesiran ke Pulau Dewata ini. Pasalnya, pihak Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ngurah Rai telah memberlakukan aturan kuat. Terkait para turis yang dianggap bermasalah saat hendak berlibur untuk dikembalikan ke Kantor Kedutaan Besar masing-masing. Hal tersebut disampaikan oleh Setyo Budiwardoyo selaku Kabid Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ngurah Rai.

Setyo pun mengungkapkan, adanya aksi seperti ini dikarenakan para turis yang datang kehabisan uang dan seringkali berakhir dengan bikin onar. Pernah ditemukan juga seorang turis asal Jerman yang memang sengaja datang ke berbagai kota besar di Indonesia dan Asia Tenggara untuk mengemis.

Ironis memang ya, beberapa pelaku begpacking berupaya seperti yang disebutkan di atas untuk kembali ke negara asalnya. Namun tidak sedikit juga para pelaku begpacking meminta-minta kepada warga lokal demi bisa berpelesir bebas lagi ke destinasi lainnya. Tentunya tanpa mengeluarkan biaya lebih alias menggunakan uang mengemis tersebut.

Jadi, bagaimana menurut kamu? Masih mau menjadi dewan penyantun para begpacking yang hendak pelesir ke berbagai destinasi? Yuk, jangan tutup mata dan mulai cari tahu agar tidak ada lagi cerita “pengemis istimewa” ini!

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.