Seni dan Budaya

Apakah Negara Lain Punya Batik?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sebagai warga negara Indonesia, tentu kita sudah tidak asing lagi dengan batik. Kain dengan berbagai motif ini telah diwariskan secara turun-temurun sebagai sebuah seni yang mewakili identitas bangsa.

Pada 2 Oktober 2009, batik Indonesia telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-bendawi. Batik pun kini telah mendunia dan dikenal oleh berbagai kalangan di berbagai negara.

Batik
Wax-resist dyeing | Image credit: kurokayo (flickr.com)

Meski begitu, namun ternyata kain semacam ini telah ada sejak 2.500 tahun yang lalu. Bukan di Indonesia, melainkan di Mesir. Temuan ini berdasarkan cara pembuatan gambar dan warna di atas kain dengan menggunakan lilin (wax-resist dyeing), seperti yang diterapkan pada cara pembuatan batik Indonesia. Hal tersebut terbukti pada kain pembungkus mumi di Mesir yang dilapisi lilin malam yang membentuk pola hias.

Jika kita mengacu pada proses wax-resist dyeing, maka teknik tersebut pun dapat ditemukan di berbagai negara, tidak hanya di Indonesia. Teknik menggambar dan mewarnai kain seperti itu terbilang cara kuno dalam pewarnaan kain. Negara-negara seperti Arab, India, Malaysia, Tiongkok, Thailand, Sri Lanka, Afrika Selatan, Jepang, Azerbaijan, dan Senegal pun menerapkan teknik wax-resist dyeing.

Batik di Berbagai Negara

Di Tiongkok, teknik tersebut sudah diterapkan sejak masa Dinasti Sui sekitar tahun 581 hingga 618 Masehi. Meski namanya bukan ‘batik’, tetapi material dan teknik pembuatannya mirip. Kain yang berasal dari negara tersebut umumnya memiliki motif khas Tiongkok, seperti naga, bunga, ikan, dan geometri.

Begitu pun dengan India, di sana terdapat seni mewarnai kain menggunakan lilin dengan motif-motif cantik. Alat yang digunakan untuk membuat ‘batik’ India adalah stempel dan pena kayu. Sementara di Jepang, teknik wax-resist dyeing dilakukan menggunakan beras pasta, dinamakan tsutsugaki. Untuk menggambarkan motifnya biasanya dilakukan dengan cara dilukis atau dengan cap yang disebut dengan ro-kechi.

Tsutsugaki
Tsutsugaki | Image credit: Jean-Pierre Dalbéra (flickr.com)

Thailand pun memiliki teknik membatik bernama phanung. Kain yang dibuat umumnya digunakan sebagai sarung, dengan motif-motif hewan dan tumbuhan. Sementara di Malaysia, ada batik pelangi yang telah berkembang sejak tahun 1770. Kain ini menggunakan teknik ikat celup dengan pewarna yang berasal dari kulit kayu dan pewarna buah.

Secara teknik, membatik memang diterapkan di berbagai negara. Namun batik Indonesia memiliki kekhasannya tersendiri pada motif-motifnya. Ada filosofi yang mengandung nilai-nilai tradisi yang diwariskan seacara turun-temurun.

Baca juga Kenali Ragam Motif Batik dari Berbagai Daerah di Indonesia

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.