Seni dan Budaya

5 Hal Tentang Tari Kecak Yang Perlu Kamu Ketahui

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sudah bukan hal baru lagi jika Bali menjadi destinasi wisata dunia yang masih memegang teguh budaya tradisionalnya. Di Bali, kita bisa menjelajahi keindahan ragam kesenian tradisionalnya. Salah satu yang menjadi primadona adalah Tari Kecak. Ada banyak hal menarik yang dapat kita pelajari dari tarian ini, lima di antaranya terangkum dalam ulasan berikut.

Mengisahkan Perjuangan Rama Melawan Rahwana

Tari kecak biasanya dipentaskan oleh lebih dari 50 orang penari. Baik laki-laki mau pun perempuan terlibat dalam tarian ini. Kisah yang diangkat dalam tarian ini mengenai perlawanan Rama terhadap Rahwana yang telah menculik Dewi Shinta. Dalam tarian ini ada pesan yang disampaikan bahwa orang yang baik akan menang mengalahkan kejahatan.

Berawal dari Ritual Sang Hyang

Tari Pendet
Image credit: Meutia Widodo (flickr.com)

Tari Kecak ini berawal dari ritual Sang Hyang. Ritual tersebut merupakan tradisi tarian dengan penari yang berada dalam kondisi kerawuhan atau tidak sadar. Dalam kondisi tersebut, penari sedang melakukan interaksi dengan roh para leluhur.

Dikembangkan Pada Tahun 1930

Wayan Limbak dan Walter Spies merupakan tokoh yang mengembangkan tari kecak. Mereka mengembangkan tarian ini sejak tahun 1930-an. Dengan memadukan konsep ritual Sang Hyang dengan kisah Ramayana, tarian ini pun tercipta. Untuk memopulerkannya, Wayan Limbak berkeliling dunia bersama kelompok penarinya.

Tidak Menggunakan Musik Pengiring

Tari Kecak
Image credit: Meutia Widodo (flickr.com)

Puluhan penari kecak duduk melingkar. Tidak ada musik pengiring layaknya tarian lain. Sebagai gantinya, para penari menyerukan teriakan seperti “cak cak ke cak cak ke” dengan tangan terangkat. Dengan seruan tersebut, musik yang tercipta seperti sebuah akapela. Ada seorang pemimpin yang memberikan tanda untuk pengaturan tinggi-rendahnya nada.

Disambung Tarian Sanghyang Dedari dan Jaran

Usai menampilkan kisah Ramayana, biasanya Tari Kecak disambung dengan Tari Sang Hyang Dedari dan Sang Hyang Jaran. Penari dalam tarian tersebut mengalami kondisi kerawuhan dengan berjingkrak-jingkrak di atas bara api.

Seluruh rangkaian penampilan tari merupakan proses yang sakral. Maka jika kita menontonnya secara langsung, harus memerhatikan tata krama dan menjalankan peraturan yang berlaku selama pagelaran berlangsung.

Baca juga Mengenal Tari Pendet, Tarian Tertua di Pulau Dewata

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.