Destinasi Indonesia Seni Seni dan Budaya Sulawesi

5 Fakta Tongkonan, Rumah Adat Toraja yang Sarat Makna

Pinterest LinkedIn Tumblr

Siapa yang tak kenal dengan Toraja? Suku yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan ini memiliki adat budaya menarik yang menjadi magnet pariwisata. Jika mendengar Toraja, kita akan selalu dibayangkan akan desa dengan banyak rumah adat tradisional beratap melengkung. Rumah tersebut bernama tongkonan.

Penamaan Tongkonan berasal dari kata “tongkon” yang artinya duduk, dan memiliki akhiran “-an”. Maka “tongkonan” dapat diartikan sebagai tempat duduk. Duduk yang dimaksud tersebut merupakan duduk bersama untuk bermusyawarah dalam membahas dan menyelesaikan masalah yang hadir dalam masyarakat adat.

Tongkonan memiliki banyak makna yang menjadi cerminan masyarakat tradisional Toraja. Berikut ini ada 5 fakta menarik terkait rumah adat Toraja ini yang sayang untuk kamu lewatkan.

Selalu Menghadap ke Utara

Rumah Adat Toraja
Tongkonan | Image credit: Andras Jancsik (flick.com)

Penempatan posisi rumah-rumah tongkonan mengikuti pandangan kosmologi masyarakat Toraja. Jika kita memerhatikan arah posisi rumah-rumah tersebut, selalu menghadap ke utara. Bagi mereka, arah utara atau “ulunna lino” berarti arah kepala dunia. Posisi tersebut merupakan simbolisasi penghormatan dan memuliakan “Puang Matua” (Sang Pencipta).

Kepemilikan Rumah Berdasarkan Keturunan

Masyarakat Toraja
Masyarakat Toraja | Image credit: Dagmara Smulewicz (flick.com)

Pembentukan rumah adat Toraja ini berdasarkan hubungan kekerabatan atau keturunan. Berdasarkan marga suku Toraja, setiap rumah diwariskan secara turun-temurun kepada anak dan cucu yang memiliki satu garis keturunan. Karena hal tersebut, untuk menulusuri garis keturunan masyarakat Toraja tidaklah sulit, cukup dengan mencari tahu pertalian kekerabatan antara dua tongkonan.

Dibuat dengan Kayu yang Tahan Hingga Ratusan Tahun

Secara bentuk, rumah adat Toraja ini memiliki ciri khas bentuknya. Jika kita melihat bagian tubuh bangunannya, tongkonan merupakan rumah panggung dengan kayu dan lembaran papan sebagai bahan utamanya. Kayu uru adalah jenis kayu yang digunakan untuk rumah ini, kayu tersebut merupakan tanaman lokal Sulawesi. Jenis kayu ini mampu bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun. Bagian atap tongkonan memiliki bentuk yang melengkung. Atap tersebut berbahan bilah bambu yang dilapisi ijuk, rumbia, atau alang-alang.

Susunan Tanduk Kerbau Menjadi Simbol Status Sosial

Tongkonan
Susunan Tanduk Kerbau di Tongkonan | Image credit: Andras Jancsik (flick.com)

Salah satu yang menjadi daya tarik tongkonan adalah susunan tanduk kerbau di bagian depan rumah. Tanduk-tanduk yang disusun secara vertikal tersebut melambangkan status sosial dan ekonomi dari pemilik rumah adat Toraja. Semakin tinggi status sosial keluarga, maka tanduk yang disusun pun banyak. Tanduk kerbau yang disusun merupakan tanduk dari kerbau-kerbau yang dikorbankan ketika upacara penguburan anggota keluarga. Kerbau yang dikorbankan tersebut memiliki harga yang spektakuler hingga ratusan juta rupiah. Karena hal itu, tanduk yang dipajang menjadi simbol ekonomi keluarga.

Memiliki 67 Motif Ukiran Toraja

Tongkonan
Motif pada Tongkonan | Image credit: Bertrand Duperrin (flick.com)

Jika kita memperhatikan dinding-dinding kayu tongkonan, banyak sekali ragam ornamen ukiran tradisional yang menghiasi. Seorang peneliti kebudayaan, J. S. Sande, mencatat setidaknya ada 67 jenis motif ukiran pada rumah tradisional suku ini. Bentuk-bentuk ukiran tersebut ada bermacam-macam, antara lain bentuk geometri, tumbuhan, hewan, cerita rakyat, hingga benda-benda langit. Setiap motif pun memiliki makna falsafah hidup orang Toraja, seperti nasehat untuk menjaga kekeluargaan dan ketakwaan kepada Sang Pencipta.

Baca juga artikel menarik tentang Wisata Budaya Di Tana Toraja yang Eksotik

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.